6221.net

About 6221.NET

Dear All,

As a web site that is fully created and developed by Indonesian enterpreneurs and Indonesian I.T. experts, and because this is the first web site in the world that provide comprehensive information on all types, topics, and schedules of all seminars and training in Indonesia, allow us to show you what people say about 6221.net.

"Brilliant idea....."

Hermawan Kartajaya
President of Mark Plus & Co

"A marketing breakthrough in the dot.com business! The first of its kind anywhere in the world."

Nirwan Idrus, Ph.D
Executive Director IPMI

"Notice how we always open Suara Pembaruan to find what is playing at the theaters? Well, for finding seminars, this will definitely be as good, and even better, as you can even register and purchase online! Just try it, and you will find you cannot live without it!"

Enny Hardjanto
Marketing Guru

LATAR BELAKANG

Didasarkan pada perkembangan Internet yang kian pesat, pendiri dari 6221.net, yang terdiri dari beberapa insinyur ITB jurusan IT dan profesional kawakan di bidang marketing dan operasional, menghasilkan suatu pendekatan e-commerce yang sangat bermanfaat bagi industri Internet di Indonesia. Dengan dibentuknya PT Asprinet Indonesia, maka pada bulan September 2002 secara resmi website 6221.net diluncurkan.

Pendekatan 6221.net dalam menggarap peluang di bisnis Internet didasarkan pada kenyataan bahwa Internet mempunyai tingkat pertumbuhan yang paling tinggi ketimbang sektor industri dan sektor ekonomi lainnya. Sebagai industri yang sangat muda, Internet, terutama di Indonesia, masih menampilkan banyak web site umum (portal) yang lebih mengutamakan perolehan hits (jumlah pengunjung). Tanpa mengecilkan arti daripada jumlah hits yang diperoleh suatu web site, PT Asprinet Indonesia percaya akan potensi komersial yang dapat digali dari pendapatan berdasarkan jumlah transaksi online yang banyak. Transaksi online tersebut mencakup penjualan tiket secara online (e-tickets atau e-bookings) dan transaksi jual-beli lainnya (e-trade), di mana konsumen dapat melakukan pembelian tiket dan melakukan transaksi-transaksi lainnya hanya dengan menekan klik di komputer yang dimilikinya.

Banyak hasil studi melaporkan bahwa potensi konsumen Internet di Indonesia masih terkonsentrasi di Jakarta, di mana konsumen potensial ini kebanyakan adalah para profesional - karyawan, staff dan eksekutif -- yang mengakses Internet dari kantor mereka. Meskipun jumlah pengguna Internet yang berbelanja online masih sangat sedikit, tetapi dengan menjadi salah satu pemain yang pertama dalam e-retail, kami percaya bahwa kami mempunyai kesempatan yang cukup besar dalam membentuk suatu pasar dan komunitas yang melulu terdiri dari kaum profesional dari segala lapisan dan tingkatan organisasi, kantor dan perusahaan di Indonesia.

Para pengguna Internet di Indonesia dapat dibagi dalam tiga ceruk - tergantung dari bagaimana kebiasaan mereka meng-akses Internet. Akses Internet kerap diperoleh dari Warnet. Namun ciri dari ceruk ini adalah mereka cenderung berusia muda (siswa dan pelajar), discretionary income yang rendah, dan bersifat untuk kepentingan pribadi. Kalaupun dia adalah orang kantoran, namun dia adalah staff yang belum mencapai level di perusahannya di mana dia layak mendapat e-mail address dari kantornya, ataupun layak diberi kewenangan untuk mengakses jaringan komputer di kantornya.

Ada lagi ceruk yang terdiri dari mereka yang mengakses Internet dari komputer di rumahnya. Meskipun tingkat pendapatan dari ceruk ini cenderung paling tinggi ketimbang dua ceruk lainnya, namun ceruk ini masih sukar untuk digali potensinya, karena mereka masih cenderung tidak menggunakan akses tersebut untuk belanja, selain untuk kepentingan pribadi (bukan urusan dinas), saling kirim/terima email dan bukan untuk browsing (menjelajah situs-situs di Internet), dan kalaupun suka browsing, masih untuk sekadar mencari informasi dan masih jarang berani bertransaksi.

Ceruk yang ketiga - dan yang ini adalah yang paling besar jumlah orang dan potensi komersialnya - adalah mereka yang menikmati akses Internet di kantornya atau diberi email address dari server perusahaan.

Selain mereka lebih berpotensi untuk bertransaksi atas nama kantornya (B-to-B), mereka juga cenderung terdiri dari manager, staff, atau karyawan yang senior atau berpotensi di dalam perusahannya.

Menemukan produk atau jasa layanan yang cocok untuk dikembangkan melalui Internet bukanlah suatu proses pilihan yang mudah. Banyak barang dan jasa maupun konsep usaha di sektor e-commerce yang ternyata gagal.

Masalah yang dihadapi oleh beberapa penyedia jasa belanja melalui Internet, yaitu adalah kesulitan dalam mengidentifikasi hubungan antara barang yang dijual dengan kebiasaan berbelanja (purchasing behaviour) dari target market yang dituju. Hal ini mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam menjual dan memperdagangkan barang-barang, seperti misalnya kasus yang menimpa suatu perusahaan dunia yang memspesialisasikan diri dalam menjual mainan - Etoys.com. Tanpa memperhatikan kebiasaan berbelanja dari konsumennya, perusahaan ini mengalami kesulitan dalam menjual produk mainannya melalui Internet karena ternyata pergi berbelanja mainan adalah merupakan salah satu sarana yang digunakan oleh orang tua untuk pergi dan menikmati waktu bersama dengan anak-anaknya. Kesalahan dalam menentukan kebiasaan berbelanja ini adalah juga merupakan salah satu hal yang harus benar-benar diperhatikan untuk menentukan langkah memasuki dunia e-commerce.

Di lain pihak, kita telah menyaksikan nasib Lippo Star Shop.com dan Boo.com yang bubar karena ternyata penghematan dari biaya investasi gedung retail, tidak sebesar tuntutan investasi sarana logistik beserta biaya operasionalnya yang terkait. Masalah yang mendasar yang menimpa mereka adalah bahwa persepsi konsumen tidak membedakan antara harga yang mereka terima di rumah versus harga yang mereka harus bayar di toko (padahal sebenarnya pergi secara fisik untuk berbelanja di toko akan menyita biaya waktu dan ongkos terselubung untuk konsumen).

Kekeliruan lain yang kerap dilakukan oleh para pemain e-commerce adalah bahwa mereka memilih produk yang sedemikian mahal atau uniknya sehingga membutuhkan inspeksi fisik atas barang atau jasa yang ditawarkan. Kita menjumpai gejala ini bila menilik website yang menawarkan barang elektronik atau barang eksklusif, seperti pakaian dan aksesoris busana. Barang bekas sekalipun, tetapi mahal, tetap akan mengalami kesulitan yang sama - misalnya mobil bekas. Kebutuhkan inspeksi fisiklah yang menumpulkan keberadaan website tersebut.

Namun, kesalahan strategi e-commerce yang paling sering kita temukan adalah pada website yang mengandalkan pendapatan dari penjualan iklan dan banners di websitenya. Kebanyakan website di dunia maupun di Indonesia, meski dilatarbelakangi oleh konsep website yang menarik, diluncurkan atas dasar asumsi bahwa kelak perolehan dari pendapatan iklan dapat mengisi arus kas bagi website bersangkutan. Sampai saat ini, Yahoo!.com sekalipun , yang sebegitu tersohor bermanfaat bagi konsumennya, belum bisa menampilkan kinerja laba yang konsisten bagi pemegang sahamnya - karena ternyata perolehan iklan di Internet tidak pernah bisa sesuai dengan yang mereka incar. Di Indonesia, mungkin hanya Detik.com yang berhasil menciptakan content yang sedemikian unik dan aktual, sehingga dapat menggapai perolehan hits yang banyak, yang pada gilirannya mendapat perhatian serius dari para pemasang iklan di Internet. Namun, apakah situs Detik.com sendiri sudah mencetak laba tidak bisa diverifikasi karena mereka bukan perusahaan publik. Selebihnya, semua website yang advertising-based di Indonesia maupun di dunia bisa dikatakan belum ada yang mencatatkan sukses komersial.

Bisa disimpulkan bahwa website yang berpotensi komersial akan perlu menampilkan beberapa ciri penting. Pertama, dia seyogyanya tidak mengandalkan iklan sebagai dasar perolehan revenues (bandingkan dengan Astaga.com). Jadi, harus transaction-based - yaitu memungkinkan transaksi jual-beli atau pemesanan tempat. Kedua, segmen pasar yang diincar memiliki purchasing behaviour yang kondusif dan menunjang bagi produk atau layanan yang ditawarkan (hindari contohnya Etoys.com). Ketiga, produk atau jasa yang ditawarkan sedikit atau samasekali tidak memakan ongkos kirim atau biaya logistik terselubung lainnya (simak kasus Lippo Starshop.com dan bandingkan dengan keberhasilan McAfee.com yang menjual software anti-virus). Keempat, produk atau jasa yang ditawarkan tidak membutuhkan inspeksi fisik (pelajari nasib Glodok.com atau Mobilbekas.com).

Khusus di Indonesia, konsumen yang paling gemuk (berpotensi untuk melakukan transaksi reservasi atau transaksi jual-beli) adalah segmen orang yang memiliki akses Internet di kantor -- mudahnya, segenap kaum profesional kantoran yang telah dipercayai dengan akses Internet di perusahaan. Akhirnya, sesuai dengan pengamatan para pemerhati e-commerce di Indonesia dan di dunia, website yang paling menjanjikan laba adalah website yang bersifat kedinasan (B-to-B), karena yang membiayai transaksi adalah kantor/perusahaan. Keenam hal di atas merupakan ciri akan konsep usaha dan model bisnis e-commerce yang sehat dan begitulah prinsip-prinsip usaha yang dianut website 6221.net.

Dalam memasuki industri Internet, 6221.net melakukan pengidentifikasian pasar dengan cermat. Setelah menyaring sekian banyak produk maupun jasa yang secara teoritis bisa saja dicoba untuk ditawarkan di Internet, 6221.net melihat bahwa dengan menyediakan informasi yang komprehensif mengenai seminar dan training, yang dipadukan dengan fasilitas pemesanan dan pembelian tiket yang offline maupun online, akan menghasilkan suatu kombinasi yang sangat tepat dan kuat untuk berkembang di dalam bisnis Internet - bahkan di dunia sekalipun.

Apalagi karena hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa saat ini sangat sulit bagi kita atau calon peserta seminar untuk menemukan informasi yang komprehensif mengenai seminar dan training -- baik itu di media cetak, media elektronik, maupun media lainnya. Dalam mencari informasi seminar yang diinginkan, seorang calon peserta akan berusaha mencari melalui media cetak (koran, majalah), atau kebetulan mendapat kiriman brosur dari penyelenggara seminar, atau dapat juga dengan memperoleh informasi dari teman dan kolega. Pendeknya saat ini belum ada suatu wadah khusus yang menyediakan informasi yang pasti, handal dan lengkap mengenai seminar dari berbagai topik, waktu, pembicara, penyelenggara, dan venue acara.

Juga dalam mengidentifikasi pasar yang dituju, 6221.net melihat akan adanya persamaan antara pangsa pasar yang dituju oleh para penyelenggara seminar (seminar organizers) dengan pasar Internet yang paling potensial saat ini, yaitu para karyawan dan staff profesional serta para eksekutif.

Lebih jauh lagi, penjualan tiket seminar melalui Internet tidak banyak berbeda dengan penjualan tiket seminar pada umumnya, di mana transaksi tiket seminar melalui Internet ini tidak akan merubah kebiasaan berbelanja seseorang (di mana seorang calon peserta seminar tidak akan pernah dapat melihat dan mencoba sebelumnya seminar yang akan dibelinya) dan juga tidak membutuhkan suatu penanganan logistik yang rumit selain secarik kertas konfirmasi tiket.

6221.net percaya bahwa Internet menciptakan suatu media yang unik untuk mempertemukan penyelenggara seminar dengan calon peserta.

Dalam memfokuskan diri pada target market tersebut, 6221.net mengembangkan suatu mesin pencari (search engine) yang mudah untuk digunakan, dengan memfasilitasi data base yang dapat digunakan secara saling silang antara beberapa kategori yang di antaranya adalah kategori industri, profesi, tanggal, tempat, dan lain sebagainya.

Untuk lebih efektif, 6221.net akan memulai bisnisnya di Jakarta, di mana pangsa pasar Internet adalah yang terbesar. Tetapi bisnis ini akan dapat dikembangkan dengan menambahkan lebih banyak servis dan produk lainnya untuk memperluas jangkauan pasar yang dituju seiring dengan semakin bertambahnya pengguna Internet, perkembangan brand name, web awareness, kepuasan dan loyalitas konsumen yang diperoleh 6221.net.

MANAJEMEN

Manajemen 6221.net terdiri dari para pengusaha dan profesional yang telah berpengalaman di berbagai bidang bisnis dan teknologi. Mereka adalah:

  • Ongki P. Sumarno, Commissioner
  • Karen Mills, Commissioner
  • Hasan M. Soedjono, Chief Executive Officer
  • Weni Suwanti, Chief Financial Officer (emeritus)
  • R. Ricky Budhrani, Chief Operating Officer
  • Srisetiowati Seiful, Chief Commercial Officer (emeritus)
  • Windy Gambetta, Chief Technology Officer
  • Heru AC Koesno, Finance & Administration Director
  • Frans Alexander Hukom, Sales Director

Secara singkat, latar belakang dari manajemen 6221.net adalah sebagai berikut:

Ongki P. Sumarno, Commissioner
Ongki P. Sumarno, adalah lulusan Harvard dengan berbagai pengalaman di bidang manajemen selama kurang lebih 20 tahun. Ongki pernah menduduki posisi CFO pada salah satu grup usaha terkemuka di Indonesia, dan kemudian menduduki posisi CEO. Meskipun suasana politik dan ekonomi yang tidak stabil di Indonesia menyebabkan dampak yang negatif pada banyak perusahaan besar di Indonesia, tetapi berkat kerja keras dan sistem manajemen yang baik, terutama di bidang keuangan, Ongki dapat membawa perusahaan yang di kelolanya keluar dari kesulitan. Ongki juga dikenal dengan keberhasilannya dalam mengelola beberapa anak perusahaan yang dimiliki oleh grup usaha tersebut dan juga sebagai profesional yang pertama kali melakukan go public terhadap salah satu anak perusahaan dari grup usaha yang dipimpinnya.

Hasan M. Soedjono, Chief Executive Officer
Hasan M. Soedjono, adalah juga salah seorang lulusan Harvard, yang mempunyai pengalaman di berbagai bidang manajemen, diantaranya bidang kimia, petrokimia, periklanan dan industri penerbangan selama 25 tahun. Hasan dikenal baik dengan terobosan-terobosan marketing yang dilakukannya hampir di seluruh industri yang di masukinya, terutama di industri penerbangan, Hasan membawa salah satu perusahaan penerbangan swasta untuk berkompetisi dengan perusahaan penerbangan yang di monopoli oleh pemerintah. Bahkan saat ini, di mana 6221.net sedang berkembang untuk mencapai target yang di tuju, Hasan memiliki ide-ide segar yang akan di kembangkan di 6221.net.

Weni Suwanti, Chief Financial Officer (emeritus)
Sebagai lulusan dari ITB, jurusan Teknik Industri, yang kemudian dilanjutkan dengan memperoleh gelar MBA dari Wharton, Weni memiliki 15 tahun pengalaman dalam mengelola dan menjalankan perusahaan konsultan yang didirikannya. Perusahaan konsultan ini menspesialisasikan di bidang pengembangan sistem manajemen, IT dan keuangan, memproduksi software untuk berbagai tipe bisnis, mulai dari sistem keuangan sampai sistem-sistem lain yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan. Weni juga mempunyai pengalaman bekerja di Stanford Research Institute, di mana salah satu prestasi yang dicapai adalah berhasil membuat studi mengenai strategi terbaik dalam pengembangan bisnis yang dilakukan oleh perusahaan komputer di wilayah ASEAN.

Ricky Budhrani, Chief Operating Officer
Ricky Budhrani mempunyai pengalaman internasional di bidang operasional selama 15 tahun, diantaranya di bidang stock brooking, yang dilanjutkan dengan mengelola operasi dari suatu perusahaan jasa penyewaan mobil Hertz di New York, mengembangkan dan memperluas beberapa jaringan usaha untuk berbagai perusahaan baik itu nasional, internasional di wilayah Asia-Pacific. Sebagai lulusan State University of New York di Amherst jurusan pemasaran, berpengalaman di New York dan di Asia, Ricky juga dapat diandalkan untuk memperluas dan mengembangkan jaringan usaha lainnya, termasuk e-commerce.

Srisetiowati Seiful, Chief Commercial Officer (emeritus)
Sebagai anak diplomat, Sri menghabiskan sebagian masa kecilnya di luar negeri. Sri juga lulusan dari ITB, dan kemudian dilanjutkan untuk mendapat gelar MBA (dengan predikat distinction) dari IPMI. Sri memiliki banyak pengalaman di bidang advertising media dan advertising agency, di mana bidang ini telah digelutinya selama 10 tahun. Sri sukses dalam merancang kerjasama multinational regional (dalam industri advertising media) pada grup usaha tempatnya bekerja, dan sedang dalam proses untuk go public melalui Nasdaq pada saat krisis melanda Asia. Pada saat partner luar negeri mengambil alih perusahaan tersebut, Sri memutuskan untuk mengambil kesempatan untuk aktif di bidang yang baru, yakni e-commerce.

Windy Gambetta, Chief Technology Officer
Sebagai lulusan ITB, jurusan Teknik Informatika, yang kemudian dilanjutkan sehingga memperoleh gelar PhD-nya dari University of New South Wales, Windy membawa serta pengalamannya 17 tahun di bidang pengembangan sistem integrasi, sistem engineering, jaringan komunikasi, termasuk design hardware dan software, dan berpengalaman dalam memberikan teknik support bagi perusahaan-perusahaan. Windy sangat berpengalaman di bidang teknologi Internet, termasuk memiliki jaringan yang luas pada komunitas Internet. Windy juga mengajar di jurusan Teknologi Informatika ITB, dengan spesialisasi di bidang Data Base dan Artificial Intelligence (AI).

Heru Koesno, Finance & Administration Director
Heru memperoleh gelar sarjana Ekonomi dari Universitas Padjajaran Bandung, dan memulai karirnya sebagai seorang akuntan. Saat ini Heru telah berpengalaman selama lebih dari 12 tahun menghasilkan dan membuat berbagai macam studi kelayakan, komputerisasi sistem keuangan dan sistem lain yang dibutuhkan perusahaan, sistem manajemen, sistem administrasi, integrasi sistem informasi dan lain sebagainya untuk berbagai macam grup perusahaan, perusahaan negara, perusahaan penerbangan, media elektronik, dan perusahaan-perusahaan besar lainnya.

Frans Hukom, Sales Director
Atau panggilan akrabnya Boy, adalah seorang lulusan dari University of Sydney jurusan Commerce, di mana di masa mahasiswanya Boy aktif di berbagai badan mahasiswa, dan turut aktif dalam membangun berbagai jaringan usaha. Sebagai bagian dari 6221.net manajemen, Boy sangat cekatan dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, yang mana kemampuan ini dipadukan dengan kemampuan-kemampuan istimewa lainnya, akan memberikan kontribusi yang sangat besar sebagai 6221.net Sales Director.

Kepemilikan Perusahaan

Secara hukum, 6221.net berada di bawah bendera PT. Asprinet Indonesia. Perusahaan ini adalah sebuah perusahaan swasta yang didirikan oleh Hasan Soedjono, Ongki Sumarno, Ricky Budhrani, PT. SP Associates, dan Silkson Enterprises Inc.

PT. SP Associates

SP didirikan untuk mengakomodasikan banyaknya tuntutan dari perusahaan-perusahaan (terutama perusahaan pemerintah) akan jasa konsultan di bidang manajemen dan keuangan. Tidak lama setelah didirikan, SP bekerjasama dengan 2 buah perusahaan terbesar di Indonesia, yaitu Perusahaan Minyak Negara (Pertamina) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan bertindak sebagai konsultan bagi ke dua perusahaan tersebut. Tugas pertama mereka mencakup bagian-bagian penting dari perusahaan tersebut seperti diantaranya di bidang struktur modal dan strategi pembiayaan investasi. Tugas-tugas ini berhasil diselesaikan dengan baik dan membawa SP berkembang dengan cepat sehingga menambah panjang daftar klien yang dimiliki.

Saat ini klien-klien dari SP mencakup perusahaan pemerintah, perusahaan publik dan perusahaan swasta, baik lokal maupun internasional. SP terus berkembang dengan cepat, dan saat ini banyak menggeluti area-area lainnya seperti: restrukturisasi dan pembiayaan perusahaan; masalah-masalah strategi manajemen; manajemen informasi sistem; kebijakan akuntansi, sistem dan prosedurnya; information teknologi; teknologi komunikasi; dan lain sebagainya.

Saat ini SP memiliki sekitar 20 profesional yang berasal dari berbagai universitas terkenal (baik dalam dan luar negeri, yang kebanyakan USA). Latar belakang pendidikan mereka mencakup ekonomi, bisnis administrasi, teknik keuangan, akunting dan komputer. Profesional-profesional ini juga didukung oleh data manajemen yang lengkap dan akurat dengan tim pelaksana, peralatan data elektronik dan software komputer yang sangat berguna bagi bisnis dan teknologi di Indonesia.